Semarang – Kota Semarang kembali menghadirkan Festival Gebyuran Bustaman, sebuah tradisi yang telah berlangsung lebih dari tiga abad dan menjadi lambang kebersamaan serta pelestarian kearifan lokal. Tahun 2025, festival ini diselenggarakan pada 21–23 Februari di Kampung Bustaman, Purwodinatan, Semarang, dengan serangkaian acara yang semakin memukau.
Tradisi ini bermula pada tahun 1742 oleh Kyai Bustam, yang memiliki kebiasaan memandikan cucunya sebagai simbol pembersihan diri. Festival ini kini menjadi momen penyucian diri menjelang Ramadhan serta pengakuan akan kesalahan masa lalu, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya warga Semarang.
Salah satu ritual khas adalah proses mencorat-coret wajah dengan lima warna (hijau, merah, putih, biru, kuning), yang melambangkan dosa-dosa manusia. Setelah itu, peserta diguyur dengan air berwarna-warni, sebagai simbol pembersihan diri dari beban masa lalu.
Festival tidak hanya ritual spiritual, namun juga media penguatan sosial dan budaya. Acara yang melibatkan seluruh warga tanpa memandang status sosial ini mengukuhkan solidaritas masyarakat.
Tahun ini, ada tambahan acara berupa pameran seni, street art, fashion show, dan pertunjukan musik jalanan sehari sebelum acara utama, yang menghadirkan ekspresi seni para artisan lokal dan nasional.
Acara utama puncak festival meliputi kirab budaya dengan parade kostum khas Kampung Bustaman dan perang air yang meriah, dimulai dengan simbolisasi tamu undangan dan pemangku adat kampung.
Melalui festival ini, Kota Semarang berupaya menjadikan Gebyuran Bustaman sebagai daya tarik wisata unggulan yang tak hanya mengangkat warisan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif seperti di bidang fashion, seni, dan kuliner.
Festival ini merupakan simbol keberlanjutan budaya di tengah era modern serta wujud keterlibatan generasi muda untuk menjaga dan mengembangkan tradisi lokal sebagai identitas bangsa.
Kolaborasi antara pemerintah kota, komunitas budaya, dan pelaku UMKM semakin menguatkan peran Gebyuran Bustaman sebagai magnet kebudayaan yang memberi dampak positif bagi pariwisata dan ekonomi kreatif Semarang.
Berikut jadwal utama Festival Gebyuran Bustaman 2025:
15 Februari: Diskusi dan seminar pengembangan budaya dan pariwisata
20 Februari: Acara keagamaan memperingati Maulid Nabi dan Arwah Jama’
21 Februari: Ziarah ke makam Kyai Kertoboso Bustam dan kegiatan sosial
22 Februari: Kirab budaya dan parade kostum khas dengan semangat kebersamaan
23 Februari: Puncak acara dengan perang air dan pertunjukan seni musik dan tari, termasuk grup Schelper, Prapatan Hip-hop, Band Koes Plus, Topeng Ireng Kaya Rimba, dan Tari Gambang Semarang
Festival ini sarat makna spiritual dan sosial, sekaligus menjadi gerakan melestarikan tradisi leluhur sekaligus wahana menanamkan rasa bangga pada warisan budaya.
Mari dukung kelestarian Festival Gebyuran Bustaman agar terus menjadi bagian penting kebudayaan Semarang dan Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar